Mengenal Sejarah Seni Teater Indonesia

sejarah seni teater
Kesenian teater mengalami beberapa masa pasang surut dalam perkembangan sejarahnya yang dimulai dari abad ke 20 hingga berkembang di tahun 1980an di indonesia, berikut keterangan lengkap mengenai sejarah yang terjadi pada sejarah seni teater di indonesia :

  • Sejarah seni teater sebelum abad ke-20
Pada masa ini seni teater, belum ada naskah dan pentas. Hanya yang ada naskah-naskah cerita rakyat dan kisah-kisah yang sudah menahun turun temurun disampaikan oleh orang yang terlebih dulu lahir baik secara lisan maupun secara tulisan. Seperti contoh drama istana, rakyat dan lain sebagainya yang dilakukan di sebuah aula atau ti tempat terbuka seperti lapangan atau halaman sebuah rumah.

  • Sejarah seni teater permulaan abad ke-20 (dramaturgi-rma.harymawan1988) 
 
Dengan timbulnya banyak pengaruh dari dunia luar khususnya dari eropa, berdampak mulai adanya pemanggungan atau (staging) serta bentuk bentuk drama baru mulai bermunculan seperti contoh tonil, opera, komedi, ketoprak, ludruk, dan lain sebagainya. Serta dengan mulai tidak menggunakan teks atau naskah (improvisatoris), akan tetapi menggunakan pentas dengan panggung berbingkai.

  • Sejarah seni teater zaman pujangga baru
Pada masa perkembangan seni teater ini mulai muncul naskah drama asli yang dipakai oleh pementasan amatir. Akan tetapi para profesional yang sudah ahli dibidang ini sama sekali tidak menggunakan naskah karena mereka berpendapat bahwa tanpa teks mereka lebi terlihat natural dalam memaikan seni ini.

  • Sejarah seni teater zaman jepang
Masa ini ditandai dengan "Sensor Sendebu" sangat keras, yang mengahuskan merekan menggunakan naskah. Para golongan profesional saat itu terpaksa diharuskan belajar membaca. Sedangkan kaum amatir tidak kaget karena mereka terdiri dari kaum terpelajar. Bagi para golongan profesional adalah sebuah kemajuan, tetapi sayang itu semua mereka lakukan bukan atas keinginan nurani mereka sendiri tetapi karena sebuah keterpaksaan.

  • Sejarah seni teater zaman kini (sekitar tahun 1980an)
Para golongan profesional mengabaikan naskah kembali. Organisasi golongan amatir masih setia pada naskah mereka, sayangnya mereka sering mengabaikan pengarangnya, penyadur, atau penyalinnya. sehingga mereka tidak bisa berkembang dengan baik.